Logo Peta Ketahanan & Kerentanan Pangan Indonesia (FSVA)
  • Nasional
    Menampilkan Peta Kabupaten/Kota

  • Provinsi
    Menampilkan Peta Kecamatan untuk masing-masing Provinsi
  • Kabupaten/Kota
    Menampilkan Peta Desa/Kelurahan untuk masing-masing Kabupaten/Kota
  • Memuat indikator...
FSVA 2018-2024
  • Memuat...
  • Pilih provinsi terlebih dahulu
  • Memuat...
  • Laporan FSVA
  • Ringkasan FSVA/Booklet
  • Panduan Aplikasi

  • Juknis Nasional

  • Standar Data Geospasial
Dokumen

Memuat dokumen...

Download
Keterangan
Prioritas 1 (Sangat Rentan)
Prioritas 2 (Rentan)
Prioritas 3 (Agak Rentan)
Prioritas 4 (Agak Tahan)
Prioritas 5 (Tahan)
Prioritas 6 (Sangat Tahan)
Tidak Ada Data
FSVA 2018-2023

Untuk tampilan peta tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota, silakan klik tombol dibawah.


FSVA 2018-2023
Informasi

Pesan akan ditampilkan di sini.

Dokumen PDF

Dokumen tidak ditemukan.

Badan Pangan Nasional
PETA KETAHANAN DAN KERENTANAN PANGAN
(FOOD SECURITY AND VULNERABILITY ATLAS - FSVA)
FSVA 2024

Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas – FSVA) merupakan peta tematik yang menggambarkan visualisasi geografis dari hasil analisis indikator ketahanan dan kerentanan pangan. Penyusunan FSVA mencakup 514 Kabupaten/Kota dari 38 Provinsi di Indonesia, bertujuan untuk menyediakan informasi ketahanan pangan yang akurat, komprehensif, dan tertata dengan baik guna mendukung upaya pencegahan dan penanganan kerawanan pangan, sehingga dapat memberi arah dan rekomendasi kepada pembuat keputusan dalam penyusunan program, kebijakan, serta pelaksanaan intervensi di tingkat pusat dan daerah.

Badan Pangan Nasional pada tahun 2025 melakukan pemutakhiran metodologi FSVA melalui serangkaian konsultasi nasional, tinjauan ilmiah dan teknis, serta lokakarya finalisasi yang melibatkan pemangku kepentingan dari tingkat provinsi dan kabupaten. Pemutakhiran metodologi didasari oleh:

  1. Modernisasi indikator

    Modernisasi indikator untuk memotret kondisi ketahanan pangan berkelanjutan sesuai perkembangan global dan mencerminkan realitas yang faktual.

  2. Mengacu konsep dan standar pengukuran ketahanan pangan internasional

    Pemutakhiran metodologi mengacu pada pengukuran Global Food Security Index (GFSI) yang dikembangkan oleh The Economist Intelligence Unit (EIU), serta pengukuran ketahanan pangan yang dikembangkan oleh Food and Agriculture Organization (FAO).

  3. Memperkuat perencanaan multisektoral berbasis bukti

    FSVA memberi masukan dalam pembuatan kebijakan yang lebih responsif serta mendukung kolaborasi dan sinergi antarbidang dan antarpihak dari unsur Academic, Business, Community, Government, and Media (ABCGM) yang sejalan dengan RPJMN 2025–2029 dan Indonesia Emas 2045.

  4. Mempertimbangkan ketersediaan data dan dilaksanakan melalui proses inklusif

    Melibatkan berbagai instansi produsen data, pemerintah pusat dan daerah, pengguna, serta para pakar yang kompeten di bidangnya.

FSVA disusun berdasarkan 3 (tiga) pilar ketahanan pangan, yaitu ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, dan pemanfaatan pangan, serta mengintegrasikan gizi dan keamanan pangan. Tiga pilar tersebut diwakili oleh 12 indikator sebagai berikut:

Aspek Ketersediaan Pangan:

  1. Rasio konsumsi normatif per kapita terhadap ketersediaan pangan (beras, jagung, ubi kayu, ubi jalar, sagu, dan pisang)
  2. Rasio ketersediaan energi per kapita per hari terhadap standar kebutuhan
  3. Rasio ketersediaan protein hewani per kapita per hari terhadap standar kebutuhan
  4. Rasio Cadangan Beras Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (CBPK) yang dimiliki terhadap CBPK berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan

Aspek Keterjangkauan Pangan:

  1. Persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan
  2. Koefisien varian harga (beras medium, daging ayam ras, telur ayam, dan minyak goreng)
  3. Prevalence of Undernourishment (PoU)

Aspek Pemanfaatan Pangan:

  1. Rata-rata lama sekolah perempuan umur di atas 15 (lima belas) tahun
  2. Persentase rumah tangga tanpa akses ke air bersih
  3. Persentase keamanan pangan (segar dan siap saji) yang memenuhi standar terhadap total sampel
  4. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) konsumsi
  5. Persentase balita dengan tinggi badan di bawah standar (stunting)

Metode analisis FSVA menggunakan metode pembobotan berdasarkan expert judgement. Analisis pembobotan menghasilkan skor komposit yang selanjutnya disebut Indeks Ketahanan Pangan (IKP). Indeks Ketahanan Pangan ini selanjutnya dikelompokkan berdasarkan cut off komposit menjadi 6 kelompok menggunakan pola warna gradasi merah (untuk kerentanan) dan hijau (untuk ketahanan) sebagai berikut:

Kode Cut off Kategori Warna
1<45,59Prioritas 1 - Sangat Rentan 
245,60 - 53,42Prioritas 2 - Rentan 
353,43 - 61,47Prioritas 3 - Agak Rentan 
461,48 - 69,52Prioritas 4 - Agak Tahan 
569,53 - 77,35Prioritas 5 - Tahan 
6> 77,35Prioritas 6 - Sangat Tahan 

Aplikasi FSVA interaktif berbasis online ini memungkinkan pengguna untuk menampilkan peta, melakukan analisis, dan melakukan proses pencarian data tabular maupun spasial untuk menampilkan data ketahanan pangan yang tersedia. Informasi ini dapat dimanfaatkan sebagai instrumen dalam memberikan rekomendasi kebijakan di bidang pangan.

Sumber: Petunjuk Teknis Penyusunan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Nasional Tahun 2025, Badan Pangan Nasional